LPK Yos Sudarso, Purwokerto

 


Lembaga Pendidikan Ketrampilan Yos Sudarso

Sejak tanggal 1 September 1994.

Nama lembaga diambil dari nama Komodor Yosaphat Sudarso, seorang pahlawan nasional beragama Katolik


 

Pengurus:

          Direktur program : Anastasia Gondo Wulandari

          Sekretaris kursus : Agata Suwardianti 

Alamat:

Purwokerto

 

Status : 30 kursus yang pernah dijalankan, yang diikuti sekitar 300 peserta

Tenaga pengajar : 11 pengajar termasuk dua dokter, tiga bidan, dan seorang perawat.
 


 


INDONESIA (IJ04419.577b) 14 Februari 2008 58 baris (638 kata)
LEMBAGA KURSUS GEREJA BERI HARAPAN BARU BAGI KAUM PEREMPUAN PEDESAAN
 

PURWOKERTO, Jawa Tengah (UCAN) -- Ketika Erni Rianti menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) beberapa bulan lalu, berbagai pilihannya terhenti akibat kemiskinan.

Sekarang ia bisa memperoleh pendapatannya dengan mengasuh bayi-bayi, berkat sebuah organisasi wanita Katolik. Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMA, Rianti, 18, bertekad untuk memperoleh pekerjaan, karena keluarganya tidak bisa membiayai pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Namun satu-satunya pekerjaan yang ditawarkan kepada remaja putri beragama Islam itu adalah sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia. “Saya tidak ingin jauh dari orangtua,” kenang Rianti, seorang anak tunggal. Saat itu ia tinggal bersama orangtuanya di Desa Sawangan, Kabupaten Banyumas.
Ibunya kemudian menyarankan Rianti mengikuti sebuah kursus mengasuh bayi yang dikelola Lembaga Pendidikan Keterampilan (LPK) Yos Sudarso di Purwokerto, ibukota kabupaten itu.
Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) cabang Purwokerto menangani lembaga itu bekerjasama dengan Yayasan Sosial Bina Sejahtera di Banyumas. Pastor Charles Burrows OMI adalah pemilik dan direktur yayasan itu, yang memiliki kantor pusatnya di Cilacap.
“Saya berpikir, baik juga saran itu. Dengan bekerja sebagai pengasuh anak, saya tidak mengeluarkan uang saya untuk makanan dan tempat tinggal,” kata Rianti. Ia membayar kursus 4,5 bulan itu sebesar 700.000 rupiah, yang berakhir pada 21 Desember. Di antara topik-topik yang dipelajarinya adalah gizi, imunisasi, dan penyakit-penyakit pada bayi. Namun kursus itu juga melatihnya untuk merawat orang jompo. Pada acara kelulusan, Rianti mengatakan kepada UCA News, "Saya merasa senang bisa mengikuti kursus ini karena saya langsung memperoleh pekerjaan." Sebuah keluarga di Purwokerto menerimanya untuk mengasuh anak-anak mereka.

Di antara 11 lulusan lain, Monica Deshi juga mengatakan, kursus itu memberikan harapan baru. "Rumah tangga saya bermasalah karena saya telah berpisah dengan suami. Saya tidak mau hanya diam di rumah dan menjadi stres. Saya butuh uang untuk hidup saya sendiri," kata wanita beragama Katolik berusia 32 tahun itu. Ia mengatakan kepada UCA News bahwa ia mendengar tentang kursus itu dari seorang anggota WKRI dari Paroki St. Paulus di Kabupaten Wonosobo. Ia sekarang bekerja di Panti Jompo Catur Nugraha, yang dikelola oleh Suster-Suster Yesus Maria Yosef (JMJ) di Banyumas. “Saya senang bisa bekerja di sini,” kata wanita itu.

Fransiska Sri Muryati, wakil ketua WKRI cabang Purwokerto, mengatakan kepada UCA News pada acara kelulusan itu bahwa kursus itu bertujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat seperti pengasuh bayi dan perawatan orang jompo. “Banyak remaja putri menganggur setelah lulus SMP. Mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan. Dengan memiliki tambahan pengetahuan dan keterampilan serta sikap mental yang baik, mereka diharapkan dapat bekerja dan memperoleh penghasilan yang layak,” katanya. “Kami ingin mengangkat harkat dan martabat mereka.”
 

Anastasia Gondo Wulandari, direktur program khusus itu, mengatakan kepada UCA News bahwa sejak lembaga itu mulai pada 1 September 1994, lembaga itu telah mengadakan 30 kursus, yang diikuti sekitar 300 peserta. Dokter yang berusia 41 tahun itu mengatakan kursus itu melibatkan 11 pengajar termasuk dua dokter, tiga bidan, dan seorang perawat.
 

Menurut Agata Suwardianti, sekretaris kursus itu, lembaga itu juga menerima para siswa, yang sebagian besar dari desa-desa di kabupaten-kabupaten tetangga -- Banyumas, Cilacap, Kebumen, Purbalingga, dan Wonosobo, dengan biaya diatur secara bebas. "Mereka bisa membayar separuh dan separuh bisa dilunasi setelah mereka bekerja," kata wanita beragama Katolik berusia 37 tahun itu kepada UCA News. Suwardianti juga menjelaskan apa yang diharapkan para wanita itu adalah untuk mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan kursus itu: "Pada bulan pertama dan kedua, bagi mereka yang bekerja di Purwokerto diupah 400.000 rupiah per bulan dan mereka yang bekerja di Jakarta, Semarang, atau kota-kota lain, dibayar 450.000 rupiah per bulan." Pada bulan ketiga, mereka harus mendapat kenaikan upah sekitar 100.000 rupiah, tambah wanita itu.
 

UCA News juga berbicara dengan Winarti, ibunya Rianti, pada acara pelantikan itu. “Saya senang dan bersyukur sekali karena anak saya bisa langsung bekerja. Ia tidak menunggu berbulan-bulan. Karya yayasan ini sangat membantu keluarga ekonomi lemah, yang tidak bisa membiayai anak-anak ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi,” kata wanita itu.
 

Yayasan Yos Sudarso diambil dari Komodor Yosaphat Sudarso, seorang pahlawan nasional beragama Katolik. ***

sumber:

Kantor Berita Katolik Asia (UCAN, Union of Catholic Asian News) 11 – 15 Februari 2008. http://mirifica.net/wmview.php?ArtID=4715
Berita-berita ini juga dapat rekan-rekan akses secara gratis melalui UCAN di: www.ucanews. com atau melalui website KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) di: www.mirifica. net